Farre Bertutur

August 5th, 2008 by farre-blues
Hidup
adalah fenomena yang kadang masuk akal atau bahkan sebaliknya.
Kebanyakan manusia ingin semua hal yang direncanakan senantiasa
bergulir mulus walau ternyata hasilnya gak selalu seperti yang
diharapkan. Tapi, itulah hidup. Perhitungan seakurat apapun kadang
tetap meleset dan sesuatu yang tanpa perhitungan pun kadangkala
berhasil gemilang. “Takdir” biasa dijadikan kambinghitam dalam
fenomena-fenomena seperti itu. Membicarakan masalah takdir, gue gak
selalu sepakat dengan kebanyakan orang. Gue cenderung menganggap
“takdir” sebagai sesuatu yang bersifat “lampau”. Orang mati dan anak
yang lahir, karena sifatnya sudah terjadi dan gak bisa ditangkal, maka
itu takdir. Namun kegagalan dan keberhasilan, maupun kesialan dan
keberuntungan, jangan dianggap sebagai takdir! Tuhan sudah mengaruniai
manusia dengan akal dan fisik yang sempurna. Maka, pergunakan “senjata”
yang Dia berikan itu dengan sebaik-baiknya.
 
Fenomena
yang sedang berjalan dalam kehidupan gue saat ini adalah Captain Lord.
Sebuah band yang lahir tanpa perhitungan dan gak diperhitungkan oleh
banyak kalangan. Fenomenal, karena kehadirannya benar-benar menyita
seluruh perhatian, tenaga, pikiran, bahkan usia gue. Gue gak perlu
membicarakan proses pendirian band ini secara mendalam, hanya saja
ketika lahir dulu, CL memang dipenuhi oleh ambisi, arogansi, dan
strategi yang mentah -bahkan bisa dibilang hampir tanpa strategi.
Maklum, bekerja (berbisnis) di industri musik masih menjadi hal baru
bagi personil maupun manajemennya. Semua serba bias dan gak terbaca.
Walhasil, CL hanya bisa bergantung dengan orang lain yang gak semuanya
bisa dipercaya. Dampaknya mengakibatkan modal yang dipersiapkan
produser CL pun banyak melayang tanpa juntrungan jelas dan menjadi
sebuah pembelajaran yang harus dibayar mahal!!
 
Waktu
terus berjalan dan kini usia CL sudah hampir 2 tahun sejak seluruh
personilnya berkenalan pada akhir tahun 2006 lalu. Bila kita bertanya
pada seseorang apakah ia mengetahui band bernama Captain Lord dan
kemudian dijawab “gak tau”,  itu sangat wajar. Sebab, debut album yang
mereka rilis pada Juli 2007 itu memang gak diimbangi dengan perencanaan
promosi yang kuat. Modal sudah habis. Kekuatan yang tersisa dari CL
untuk mempromosikan albumnya hanyalah kepercayaan diri dan kecintaan
pada dunia musik. Pengelolaan manajemen hampir sebagian besar digarap
oleh seluruh personil. Personil adalah manajer dan sebaliknya.
Solidaritas terhadap rekan media yang membantu dengan ikhlas dan tanpa
tedeng aling-aling diwujudkan dengan kerjasama jangka panjang tanpa
melulu memperhitungkan untung rugi. Demikian juga dengan siapa saja
yang memberikan dukungan dengan sepenuh hati. Ya, CL akan membalas
mereka dengan kecintaan yang berlipat ganda.

Di Kinanti Café Hotel Salak, Bogor, pada Senin, 28 Juli 2008 kemarin berlangsung launching band
Michael Says, sebuah band yang diproduseri oleh Pasha “Ungu”. Acara itu
turut menghadirkan Fadli “Padi”, Ian “Radja”, Rully “Repvblik”, serta
Five Minute sebagai pendukung. CL tampil sebagai pembuka di awal acara.
Dan, pada malam hari itu cinta yang selama ini dibina terbukti telah
berbalas. Gue gak bisa berkata apa-apa saat berada di atas panggung dan
melihat kerumunan orang-orang yang mencintai CL ikut bersorak dan
memberikan dukungan. Lebih dari 50 orang berdiri memakai kaos berlogo
CL, bernyanyi bersama! Captain Lord adalah kapten kapal dan memiliki
para pendukung yang disebut “kelasi”. Kelasi inilah yang akan mendukung
ke mana pun sang kapten menentukan tujuan. Seorang kapten kapal gak
akan berarti apa-apa tanpa bantuan kelasi-kelasi di belakangnya. Ketika
sadar bahwa kelasi yang mendukung telah semakin banyak, maka itu bukan
terjadi karena takdir. Itu adalah buah kesabaran dan usaha yang selama
ini CL lakukan dengan dukungan cinta dari berbagai pihak.

Kapal
besar itu gak lagi kosong. Dermaga pun selalu siap menjadi tempat
berlabuh. Kini, pelayaran yang lebih berat menghadang di depan mata.
Apakah Captain Lord mampu menggapai cita-citanya? Gue gak tau dan gak
pernah mengkhayal terlalu muluk. Bisa jadi, mungkin inilah saatnya
menunjukkan pada dunia, bahwa Captain Lord adalah “sesuatu” yang
seharusnya diperhitungkan. Yang jelas, gue akan selalu ada di belakang
mereka. Ikut mengomandoi dan mendukung sepenuh hati. Berharap, semoga
Captain Lord gak hanya menjadi fenomena dalam kehidupan seorang Farre,
tapi juga di kehidupan seluruh pencinta musik bangsa ini. Amin!

 
 
Kelasi     : dalam kamus bahasa Indonesia berarti "awak kapal". Dijadikan istilah untuk sahabat dan pendukung Captain Lord.
Dermaga  :  tempat kapal menepi. Dijadikan istilah untuk basecamp Captain Lord di daerah Cibinong, Bogor.

Memaknai Idul Fitri Secara Wajar

October 13th, 2007 by farre-blues

Idul Fitri secara etimologis merupakan gabungan dari 2 kata berbahasa Arab: ‘ied yang berarti hari raya, dan fithri (dari akar kata fathara) yang bisa berarti sarapan; makan pagi; berbuka; kembali ke asal.
Maka Idul Fitri dapat diartikan sebagai hari raya di mana seluruh umat
Islam –setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh- dapat kembali ke
rutinitas semula, melakukan aktifitas sarapan pagi, seperti
biasanya. Titik. Tidak perlu dibesar-besarkan sebagai hari di mana
semua dosa dihapuskan dan semua individu kembali suci. Anggapan
tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan, jelas, Tuhan Maha Adil.
Bagaimana mungkin Dia turut menghapus dosa orang-orang yang tidak giat
menjalankan ibadah selama Ramadhan? Coba dipikir-pikir lagi, deh.

 

Pada malam hari raya, umat Islam diwajibkan membayar zakat.
Zakat fitrah sebagai zakat yang paling pokok hanya bernilai sekitar Rp
15.000,00 tiap individu. Sangat murah tetapi sedikit sekali yang ingat
dan mau membayarkan. Menurut Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, pendapatan
zakat nasional tiap tahunnya rata-rata hanya dibayarkan oleh 2,5%
penduduk muslim Indonesia! Aih, kini dapat dipahamilah sudah
alasan terbelakangnya umat Islam. Solidaritas yang pincang! Umat
terlalu sibuk berpikir tentang idealisme, perbedaan, segala macam ini
itu yang tidak jelas, tetapi melupakan tetangganya yang sedang
kelaparan. Andai saja seluruh zakat bisa terkumpul secara total,
mungkin kemiskinan sedikit bisa dientaskan. Untung saja diwajibkan
setahun sekali, tidak dengan paksaan pula. Apa jadinya ya
bila hukumnya sedikit dipertegas? Bisa jadi orang-orang (lagi-lagi)
akan berkoar-koar kencang menghujat Islam sebagai agama keras dan –kali
ini- renten. Yah, jadi serba salah. Padahal Islam adalah sebuah jalan hidup yang seharusnya membawa rahmat bagi semesta. Makanya, sudahlah yang setahun sekali itu dibayarkan saja, bro! Jangan terlalu pelit. Insya Allah, bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

 

Menyambung tali silaturahim adalah hal yang dianjurkan Rasulullah saat merayakan Idul Fitri (Shahih Bukhari). Di Indonesia, akibat pengaruh budaya sungkem Jawa dan budaya lokal Indonesia lainnya, ucapan saling maaf-memaafkan dan istilah halal bi halal lantas menjadi trend. Hmm, berarti adat maaf-memaafkan dan istilah halal bi halal saat Idul Fitri bukan kebiasaan yang berdasarkan perilaku Rasul, dong? Memang benar. Namun, sejauh semua budaya tersebut dapat menimbulkan atmosfir persaudaraan yang positif, maka boleh-boleh saja kok dilakukan. Toh bermaaf-maafan juga termasuk salah satu bentuk menyambung tali silaturahim.

Andai
boleh memberikan saran, sebaiknya maaf-memaafkan jangan dibudayakan
saat Idul Fitri saja. Kapan pun, di mana pun, bulan apa pun kita merasa
bersalah pada orang lain, maka meminta maaf lah. Begitu juga
sebaliknya, kapan pun ada yang berbuat salah terhadap kita –terlepas
dari si empunya salah itu meminta maaf atau tidak- maafkan lah segera.
Tidak perlu menunggu sampai Idul Fitri, khan?

 

Perbedaan
waktu Idul Fitri yang kerap terjadi di Indonesia dianggap mengganggu
oleh sebagian masyarakat. Padahal, perasaan itu tidak perlu ada
seandainya masyarakat mengerti proses penghitungan awal bulan Syawal.
Sebagaimana kita ketahui, awal bulan dalam tahun Hijriyah ditentukan
dengan Ru’yah atau melihat penampakan bulan sabit
kecil (hilal) di langit yang biasa muncul setelah matahari terbenam.
Apabila hilal belum tampak pada hari ke-29 itu maka ada 2 metode yang
bisa dipakai sebagai metode cadangan:

 

1. Hisab
atau penghitungan secara astronomi (ilmiah). Rata-rata bulan dalam
tahun Hijriyah adalah 29 hari. Sekalipun hilal belum tampak, penetapan
awal bulan dengan penghitungan matematika dan fisika ini selalu
cenderung mengarah pada sistem perputaran bulan mengelilingi bumi yang
memang memakan waktu 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik. Sehingga,
sedikit saja, posisi bulan melewati derajat tengah ufuk langit, maka
hal itu sudah dapat ditetapkan sebagai bulan baru.

 

2. Ikmal
atau menggenapinya menjadi 30 hari (tradisional). Dikarenakan hilal
belum tampak, agar terhindar dari keragu-raguan, maka dibulatkan satu
bulannya menjadi 30 hari.

 

Pemerintah
Indonesia selama ini masih menggunakan cara tradisional (ikmal) dalam
menetapkan awal bulan Syawal bila hilal belum tampak pada senja di hari
ke-29 Ramadhan. Tidak masalah sebenarnya. Namun, alangkah sayangnya,
ketika teknologi dan ilmu astronomi telah berkembang pesat tetap tidak
ada upaya pembenahan yang terlalu berarti dalam sistem penetapan awal
Syawal di Indonesia. Sungguh tidak canggih.

Seharusnya pemerintah mampu mengambil keputusan dari metode ru’yah yang secara sains paling detil sebagai jalan tengah agar terhindar dari perbedaan waktu ini. Kalau belum mampu, yah untuk sementara, sebaiknya antar pengguna metode yang satu dan yang lain harus bisa toleran dan bersabar. Toh sama-sama
berdasar. Tapi, mengingat bangsa Amerika yang berkali-kali sudah
menginjakkan kaki ke bulan, Malaysia juga akan menyusul dengan
menerbangkan astronotnya ke bulan dalam tema "Batik in Space", rasanya
sedih sekali, kalau bangsa kita ini masih saja kalang kabut untuk
urusan "mengintip" bulan.

 

Tentang ucapan “Minal Aidin Wal Faizin”
mohon maaf bila pendapat penulis sedikit bertentangan dengan kebiasaan.
Sebenarnya, tidak ada sumber ayat atau hadits Rasulullah yang
mensyariatkan lafal tersebut diucapkan dalam perayaan Idul Fitri.
Menurut beberapa sumber, lafal tersebut hanyalah syair yang diciptakan
oleh seorang penyair asal Timur Tengah abad pertengahan yang tidak
jelas sejarahnya. Bagaimana asalnya hingga bisa dijadikan salam yang trend di tengah masyarakat muslim Indonesia pun tidak banyak yang tahu. Ucapan yang disyariatkan berdasar sebuah hadits hasan dari Jubair bin Nufair dalam kitab “Fathul Bari” adalah Taqabalallah minna wa minkum yang berarti,”semoga Allah menerima (amalan Ramadhan) dari kami dan anda sekalian.” Selesai sampai di situ.

 

Terlepas
dari salah dan benar, masalah salam ini tidak perlu dibesar-besarkan.
Bagi yang belum tahu, cukup dijadikan sebagai wacana saja. Kalau lantas
mau digunakan dan dipopulerkan, ya Alhamdulillah. Yang pasti, masyarakat bebas memilih antara salam yang trend ataupun yang disyariatkan. Jadi, bagaimana dengan ucapan Minal Aidin? Well, cukup puitis juga kok
untuk sekedar diucap dan dituliskan sebagai pengiring maaf-memaafkan
saat silaturahim. Hanya saja, sesuatu itu akan lebih aman dikonsumsi
apabila kita mengetahui latar belakang sejarah dan maknanya, lho.

 

Wallahu a’lam.

Review Band dan Album: Captain Lord

July 10th, 2007 by farre-blues

Di mata gw, band yang sedang dalam pembuktian
eksistensi ini adalah lebih dari sebuah band. Yup, Captain Lord (selanjutnya
akan ditulis CL) adalah sebuah keluarga. Kekompakkan antara player, manajemen, dan
produser tidak hanya diaplikasikan saat berkutat dalam urusan manajerial,
event, dan stage, tapi juga dalam tawa-canda serta urusan curhat-curhat harian.
Ah, what a happy family.

Atmosfir kerja yang sangat kondusif ini adalah sebuah senjata yang sangat
ampuh dalam upaya mewujudkan kemungkinan-kemungkinan yang pada awalnya tidak
mungkin agar menjadi mungkin. So, keep up
the good works, Guys!

Me-review
album pertama CL yang bertajuk namanya sendiri (self titled) adalah pekerjaan
yang menyenangkan buat gw. Pertama, karena CL sepenuhnya
berisikan orang-orang yang sangat ramah dan menyenangkan, kedua, karena seluruh personil CL adalah orang-orang yang sangat bisa
diandalkan. Mereka tidak hanya musician
minded
yang melulu hanya mengerti tentang dunia musik tetapi juga menguasai
banyak bidang di luar dunia musik itu sendiri. Mulai dari tukang komputer, jurnalisme,
multimedia, politikus, bahkan sampe ahli kimia pun ada di sini! Ketiga, jelas, CL adalah keluarga di mana gw
juga turut berkecimpung di dalamnya sebagai gitaris, hehe.

 

Kembali ke topik.

Menurut penilaian gw, seluruh lagu dalam album
pertama CL adalah lagu yang aman, wajar, dan sangat industri sekali. Easy listening! Hal ini mungkin
menyesuaikan target pasar CL yang terdiri dari remaja dan kalangan sosial B-C. Sayangnya,
gaya lagu-lagu mereka tidak banyak berbeda dengan band-band musik industri
pendahulunya. Sangat terlihat dalam album ini bahwa CL belum berani melakukan
eksperimen apa pun. Semua lagu digarap secara lurus-lurus saja. Sekedar saran,
simpel dalam mengaransemen musik memang kerap kali menjadi pertanda akan
pendewasaan seorang musisi, namun untuk CL gw pikir belum waktunya untuk
seperti itu. Semoga di album berikutnya ada sedikit idealisme yang tertuang
tanpa harus mengorbankan sisi-sisi komersialisme.

Pop adalah garis merah yang ditawarkan CL.
Uniknya, ada banyak unsur “pop” yang ditawarkan dalam 9 album ini. Mulai dari Pop
Mellow, Pop Rock, Garage Pop, Pop and Roll, Brit Pop, sampai Rock Modern (nah
lho!). Gw pikir, ini lah daya tarik utama CL. Maka dari itu, gw berani
mengeluarkan statement bahwa album CL
pertama ini adalah sebuah kaleidoskop
perjalanan musik Pop di Indonesia
. Memang, di sisi lain hal tersebut
menyiratkan bahwa CL belum memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan
band-band tanah air lain. Tapi, untuk memulai sebuah karir di blantika musik
Indonesia hal yang sudah ditempuh CL sejauh ini sangat tidak jelek. Lebih lagi,
karakter vokal Doni setidaknya telah memberikan sedikit kontribusi yang
menuangkan ciri pada keseluruhan karakter CL.

Berikut di bawah ini adalah ulasan satu per satu
lagu yang terkandung dalam album pertama CL.

 

1. Jatuh Cinta Lagi. Jelas, dalam lagu ini para player tidak
sempat memikirkan aransemen secara lebih mendalam. Intronya sangat familiar dan
terlalu banyak dipakai para pendahulunya, seperti oleh: /rif, Samsons, atau
Sheila on 7. Tapi okelah. Toh di sisi
lain, lagu ciptaan Doni ini sangat powerful. Karakter vokal Doni pun sangat
menonjol dalam setiap reff. Part interlude
adalah part yang terkeren. Sangat modern. Thanks buat Adi “Drive” atas
masukannya. Fill synthesizer di
ujung-ujung lagu merupakan usulan yang asyik dari Ace dan Dep. Bila pada
akhirnya lagu ini dijadikan sebagai hits single, maka itu adalah pilihan yang
pas.

 

2. Dan Aku. Lagu mellow indah yang dibangun dengan konsep
sedikit Brit Pop. Gw suka nada-nada tiap songnya. Matto sang penciptanya boleh
juga, nih. Tapi sayang, liriknya agak
sedikit dangkal. Yah, tapi apa boleh
buat. Masyarakat Indonesia memang tidak terlalu suka dengan bahasa yang ribet.
Maka, gw rekomendasikan lagu ini sebagai lagu yang paling aman sepanjang album
CL. Manis, tanpa kehilangan sentuhan rock para playernya. Apalagi ada part overtune. Wuiihhhhh, gw sampai merinding. Backing vokal pada ending lagu menegaskan kembali maksud
dari lirik dalam lagu ini. Ide yang bagus. String
section
dan blocking piano-nya
menjadikan lagu ini juga cukup syahdu. Pilihan nada-nada yang simpel namun
mengena.

 

3. Baru Jadian. Intronya gw ambil dari lagu The Strokes yang
berjudul “12.51”. Tapi banyak orang yang tidak menyadarinya. Alhamdulillah
kalau begitu, hehe. Secara umum lagu
ini berkonsep Garage Rock atau mirip-mirip Rock and Roll 70-an. Sedikit
terinspirasi oleh lagu Dewa 19, “Flower in the Dessert”. Melodi interlude-nya juga
terinspirasi oleh gaya bermain Brian May dari Queen. Tapi untungnya, suara
“brass” sepanjang lagu sedikit mengingatkan banyak orang akan lagu-lagu “ska”.
Nah, jadinya lagu ini termasuk kategori apa, dong? Silakan anda interpretasikan sendiri. Yang pasti, gw suka
banget dengan lagu ini. Riang!
Sayang, sound gitarnya kurang maksimal. Ahhhh,
capek, deh
.

 

4. Takut Mati. Direncanakan akan menjadi hits single kedua dari
CL. Lagu ini merupakan kombinasi antara “The Reason” ala Hoobastank dan “ATSL”
ala ST 12. Unik! Matto sang pencipta lagu turut urun suara pada tiap song.
Liriknya pun lucu, simpel, mudah diingat, dan tidak bertele-tele. Dari
keseluruhan lagu, lagu ini lah yang memiliki sound paling maksimal. Tapi ada
part yang sangat gw sesali. Yaitu, part slide
gitar pada pertengahan lagu yang bertabrakan dengan vokal. Seharusnya,
cukup salah satunya saja, antara vokal atau slide
gitar. Demikian juga dengan blocking kibor yang di-pitch. Duh, membuat pendengar menjadi semakin bingung memikirkan
nada mana yang sebenarnya menjadi tema.
Lagu ini, sama seperti “Dan Aku”, backing vokal pada ending menegaskan kembali maksud dari liriknya. Ssst, jangan
bilang-bilang, itu usulan dari Mas Ebi, lho.

 

5. Kamu. Lagu ini gw ibaratkan seperti Vina Panduwinata
bernyanyi diiringi band Punk. Dasar lagu ini sebenarnya adalah lagu swing, namun berkat brainstorming antara player-player CL, maka jadilah lagu tersebut
seperti yang dapat disimak dalam album. Modern ke-vintage-vintage-an. Halah! Tetap asyik untuk dibuat goyang
walaupun rada dipaksakan. Sedikit jomplang
antara part intro dengan part
saat vokal mulai masuk. Intro-nya
sangat hardrock sekali, namun saat vokal mulai masuk nuansa hardrock tersebut
lantas hilang begitu saja. Lalu sekali lagi, sayang seribu sayang, sound
gitarnya sungguh amit-amit! (gitarisnya siapa, sih? Hehehe.)

 

6. Demi Cinta. Lagu ciptaan gw, neh! Kalau kata Doni, syairnya berat dan gw setuju (hehe). Anyway, lagu ini tergubah tidak seperti yang gw harapkan. Gw
berharap lagu ini bisa menjadi lebih modern dengan campur tangan Gerdi dan
Matto yang biasa membawakan lagu-lagu Modern Rock. Tapi ternyata tetap seperti
pada konsep awal: jadul. Fill piano akan lebih maksimal apabila
diisi sepanjang lagu. Tapi sayang, Dep masih kurang berani untuk melakukannya. Lalu,
di seluruh part song dan reff Doni pun masih kurang soulful. Untung, pada part bridge-nya doi tampil prima. Membuat
lagu ini menjadi sedikit klimaks. Interlude-nya
gw suka. Mengingatkan gw akan lagu balada ala OST “Realita Cinta dan Rock and
Roll” yang dinyanyikan Ipang. Tapi ya itu tadi, jadi jadul banget! Sing a long pada ending lagu cukup menghanyutkan. Sangat memback up vokal Doni yang kurang penjiwaan. Buat jadi hits single
ketiga? Hmmmm, boleh lah.

 

7. Padamu. Satu-satunya lagu CL yang bertema ketuhanan dan
paling revolusioner menurut gw. Rock Modern tercampur sedikit Japanese Rock!
Dahsyat. Shynthesizer Dep dan pukulan
dram Gerdi memberikan banyak kontribusi pada lagu ini. Demikian juga usulan
nada pada part intro yang diusulkan
Matto. Keren! Doni pun perfect. Tapi
sayang, interlude dan intro-nya FALS! Gw sampai kepikiran terus berhari-hari. Pasti gara-gara adjusment gitar yang kurang sempurna. Ah, andai waktu bisa berputar, ingin
rasanya gw take ulang lagi. Yah, moga-moga album CL saat ini meledak
sehingga para gitarisnya mampu membeli gitar-gitar yang berkondisi lebih sehat.
Amin!

 

8. Di Ujung Jalan. Kata operator yang menggarap proses recording CL, lagu ini mirip lagu
Jikustik. Tapi sebenarnya, Nidji dan Goo Goo Dolls-lah yang lebih banyak
berpengaruh. Modern Pop yang sangat indah di bagian awal namun gagah di bagian
akhir. Menurut gw, inilah lagu CL yang proses aransemennya paling dipikirkan.
Prediksi gw, lagu ini juga bakal dijadiin hits single, tapi ternyata tidak.
Sedikit ada gitar fals pada interlude dan loose
tempo saat Doni bernyanyi setelah “break” pada tengah lagu. Tapi secara
keseluruhan, dalam memainkan secara live atau pun audio, gw sangat bisa
menjiwainya. Gw mau kasih applaus
buat Dep. Isi-isiannya keren. Katanya, dia terinspirasi oleh November Rain ala
GnR. Yah, whoever, lah, yang jelas
lagu ciptaan Matto ini telah tergubah menjadi sangat indah.

 

9. Kaulah. Lagu ini sebenarnya hanya merupakan etude latihan fingering gitar klasik
yang gw mainkan setiap hari. Tapi lantas Doni menginginkan etude tersebut dijadikan sebuah lagu, ya sudah. Silakan saja. Hasilnya pun sangat menggembirakan. Lagunya
bagus juga, walau pun liriknya agak gombal
mukiyo!
Ada sedikit loose tempo
saat gw mengisi interlude, tapi harap
maklum, karena semua proses fill in pada
lagu ini adalah impromptu. Demikian
juga isian windchime dan voicing mirip flute pada reff akhir, semua digarap kurang halus. Termasuk take dengan gitar klasiknya. Ampun,
bermain klasik dengan metronom sulit sekali ternyata. But, over all, lagu ini cukup pantas untuk dijadikan penutup dari
sebuah album pertama CL. Good job!

 

Fiuh! Selesai sudah review album CL menurut
pandangan gw. Moga-moga tidak ada pihak yang Ge Er atau pun tersinggung, karena
apa-apa yang gw utarain semua hanya demi kemajuan CL semata.

Btw, CL tidak perlu meributkan kembali
permasalahan tentang ke”indie”annya. Bila ada pihak-pihak di luar sana menilai
materi CL terlampau biasa-biasa saja bagi sebuah band indie maka sudahlah. Toh CL
sudah berupaya sangat maksimal dengan segala keterbatasan yang menghimpit. Hal
lain yang perlu diingat adalah tentang tujuan hidup seorang penghibur atau entertainer yang tidak boleh mengesampingkan kesukaan audiens-nya.
Seorang entertainer hidup untuk
menghibur dan bertindak berdasar apa-apa yang masyarakat sukai dan sudah
seharusnya untuk tidak boleh egois. Apabila ada yang berkomentar aneh tentang
CL, maka biar saja, Show must go on.
Yang jelas, CL ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesenian yang
menghibur. Bukankah menjadi penghibur hati yang sedih merupakan tujuan hidup
yang mulia? Maka, bila memang dalam hati setiap produser, personil, dan
manajemen terbersit itikad untuk menjadi sosok orang yang berguna sebagai
pelipur hati masyarakat, sudah sepatutnya setiap anggota keluarga CL berjalan membusungkan
dada, berbangga akan eksistensinya. Kenapa? Karena kita adalah orang-orang yang
berjiwa mulia….

 

Bravo Captain Lord…

Break a Leg……………

Islam dan Dilema

June 3rd, 2007 by farre-blues

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi
panjang lebar dengan salah seorang teman perihal “keyakinan dan logika.” Kami
memfokuskan pembahasan mengenai kejatuhan agama di tengah merebaknya
sekularisme sebagai implikasi dari ketidak logisan ritual, sejarah, dan
kandungan-kandungan ilmu alam dalam kitab-kitab suci.

Sebagai seorang sarjana muslim, saya sangat
antusias sekali mengagung-agungkan Al-Quran sebagai satu-satunya kitab yang
orisinil, terbukti keaslian, jelas sejarah pembukuan, indah tata bahasa, dan sama
sekali tidak ada pertentangan dengan sains di dalamnya. Di antara kitab-kitab
suci yang lain, Al-Quran adalah satu-satunya kitab yang permanen dan tidak akan
pernah berubah hingga akhir zaman. Al-Quran merupakan kitab suci yang mudah dihafalkan
oleh umat dan senantiasa terpakai sehari-hari dalam pelaksanaan shalat lima
waktu. Di sisi lain, saat ini banyak sekali sarjana muslim yang makin pandai
berbahasa Arab. Keadaan ini menjadikan Al-Quran terhindar dari pemalsuan ayat
walau satu huruf serta dapat diterjemahkan secara kontemporer seiring dengan
berkembangnya teknik bahasa dan sastra. Bahkan  mushaf yang
dibukukan pertama kali pada zaman khalifah
Utsman bin Affan pun masih tersimpan dengan rapi di Musium Al-Husainy Kairo
Mesir, kota Tasyqand Uzbekistan, juga 2 mushaf
di Istanbul Turki. Ketika kita memiliki keinginan untuk mengecek keaslian
dengan membandingkan mushaf yang
terbit pada hari ini dengan mushaf yang
dibukukan pertama kali, maka hal tersebut dapat kapan pun dilakukan.

Demikian pula dengan hadits Nabi. Keabsahan sebuah hadits
hingga akhirnya terbit sebagai rujukan hukum pun harus melalui penyeleksian
yang sangat ketat. Mulai dari latar periwayat hadits, guru-gurunya, hingga berakhir kepada sumber hadits itu sendiri yaitu Muhammad saw. Meneliti
hadits berarti pula menapak tilas
sejarah perkembangan Islam. Apabila dalam perjalanannya ditemukan periwayat
yang memiliki cacat akhlak, maka hadits
tersebut akan dianggap lemah bahkan palsu sehingga tidak dapat dijadikan sumber
hukum.

Praktis, dari dua sumber hukum di atas, Islam
tidak hanya menonjolkan dogma-dogma yang bersifat ukhrawiyah saja tetapi juga aspek kognitif dan unsur-unsur logis
yang dapat dijadikan variabel dalam pencarian kebenaran hakiki. Islam bukan
hanya sebuah keyakinan, akan tetapi Islam juga merupakan hukum yang realistis, jalan
hidup, fakta, sejarah, fisika, matematika, biologi, ekonomi, sosial, politik, serta
kemanusiaan. Mutlak, dengan adanya dua sisi ini (batin dan akal sehat), maka Islam
adalah sebuah kebenaran.

Pernyataan saya tentang Islam sebagai kebenaran
diakui oleh teman saya yang beragama non-Muslim. Tidak ada satu pun agama lain
yang memiliki dokumen seorisinil dan selengkap agama Islam. Selama ini teman
saya memang meyakini agama sebagai sebuah doktrin yang tidak perlu diusik logis
atau tidaknya. Sebab itu bukanlah tujuan utama. Teman saya hanya mengatakan
bahwa ia merasa nyaman dengan apa yang dipeluknya saat ini. Tidak perduli
bagaimana masa lalu dan bobrok dokumentasi, yang jelas, ia sangat betah
terhadap apa yang diyakini. Baginya, kebenaran dokumen tidaklah penting. Ia
cenderung menganggap kebenaran lebih dapat dicerminkan dari perilaku umatnya.
Bagaimana mungkin sebuah keyakinan dapat dianggap sebagai kebenaran apabila
umatnya sendiri terpecah belah, saling menjelekkan satu sama lain, tidak dapat
diajak bertoleransi dalam menerima perbedaan yang remeh, berkelakuan barbar,
beraninya keroyokan, lebih suka nyolong sendal
di masjid daripada beribadah, dan kalau kalah tidak sportif?

Pernyataan teman saya pun menghenyak pikiran.

Kalau mau dihitung-hitung, sebenarnya
kerusuhan-kerusuhan yang ditimbulkan umat Islam saat ini masih tidak seberapa.
Masih ada kerusuhan-kerusuhan di luar sana yang bukan ditimbulkan umat Islam
dan jauh lebih destruktif. Seperti pembantaian 8000 muslim di Bosnia, konflik
Irlandia Utara dan Selatan, invasi Amerika Serikat terhadap Afghanistan dan
Irak, konflik ras di Afrika Selatan, pembantaian Yahudi oleh Hitler,
kejahatan-kejahatan Mussolini di Italia, pembantaian santri pesantren Wali
Songo di Poso yang melibatkan 16 tokoh agama tertentu, diskriminasi terhadap
muslim di India, penggusuran tanah di Palestina, dan lain sebagainya.

Lalu, apakah maraknya peristiwa terorisme belakangan
ini dan peristiwa WTC tahun 2001 silam lalu benar merupakan terorisme yang
disebabkan oleh segelintir umat Islam? Toh hingga saat ini pun belum ada hasil
penyidikan akhir yang kongkrit. Tidak adakah campur tangan adikuasa di sana? Semua
masih misterius. Apabila akhir-akhir ini kekerasan yang dilakukan umat Islam
dan perpecahan Syiah-Sunni Irak berkesan diblow
up,
mungkin saja sebenarnya memang karena media yang didominasi Barat tidaklah
berpihak kepada Islam. Mungkin saja media Barat lebih suka mendiskreditkan umat
Islam dengan menampilkan segala macam kerusuhan dan konflik yang timbul di
belahan dunia tanpa mengekspos konflik-konflik yang ada di Barat sendiri. Dari
sini, masyarakatlah yang seharusnya bisa menilai, apakah umat Islam memang
rawan dengan konflik? Atau mereka memang bersikap anarkis karena membalas
arogansi pihak lain? Atau adakah intervensi dari pihak asing tertentu yang
memang menginginkan umat Islam terpecah belah?

Hmm, terlepas dari asumsi itu semua, saya
sendiri tidak mau su-u zhan. Saya
lebih suka berintrospeksi terhadap sudut pandang yang lebih kecil, yaitu bangsa
Indonesia dan juga diri saya.

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim
terbanyak di seluruh dunia. Hanya saja, kuantitas yang ada tidaklah sebanding
dengan kualitasnya. Banyak yang mengaku beragama Islam tapi tidak paham akan
esensi Islam itu sendiri yang seharusnya menjadi rahmat bagi semesta. Wajar apabila keadaan ini lantas menyebabkan
pandangan miring dari kaum minoritas yang akhirnya menimbulkan persepsi negatif
tentang Islam.

Ya, saat ini koruptor terbanyak memang masih dari
pejabat yang mengaku beragama Islam, pelaku kriminalitas dan kekerasan di
Indonesia memang masih dari individu yang beragama Islam, kekumuhan dan sikap
tidak perduli terhadap lingkungan masih tampak dalam keseharian umat Islam, sikap-sikap
tidak toleran dan aneka judgement
yang bersikap menghina memang masih keluar dari mulut umat Islam,
pendiskreditan terhadap umat lain yang lebih lemah masih muncul dari tata krama
umat Islam, penghardikan terhadap anak yatim dan orang miskin masih mencuat
dari lisan umat Islam, juga zakat, qurban,
dan sedekah yang seharusnya bisa menyejahterakan bangsa justru semakin sedikit
dikeluarkan oleh umat Islam. Agama Islam yang seharusnya menjadi satu-satunya
kebenaran di muka bumi justru hancur dan dikotori oleh pemeluknya sendiri.
Tragis.

Problematika inilah yang sekian lama membelenggu
sebagian besar umat Islam khususnya di Indonesia. Umat tidak memiliki kemauan
belajar yang cukup untuk menggali kembali “harta pengetahuan” yang tersimpan
dalam Al-Quran. Benturan dengan kebudayaan tradisional justru menghasilkan
bid’ah-bid’ah yang celakanya dianggap syar’i. Daripada belajar sendiri umat
cenderung lebih menyenangi taqlid
atau menuruti doktrin yang dikatakan orang lain tanpa mau merechek sumber ataupun dalilnya. Fungsi
Al-Quran saat ini hanya sebatas penangkal bahaya dan pembawa manfaat dengan
cara-cara yang tidak rasional. Wajar apabila umat Islam identik dengan
kebodohan, kemiskinan dan kekumuhan, mudah dipecah belah dan terprovokasi.

Islam sebagai keyakinan adalah kebenaran, tidak
demikian dengan pemeluknya. Sifat egois dan arogan masih senantiasa menghiasi
kepribadian umat. Sikap mengasihi, menghormati, mengayomi, dan tolong menolong
yang diajarkan Muhammad saw. justru semakin tertinggal jauh. Umat lebih senang
memperbesar masalah-masalah remeh yang sebenarnya bisa diselesaikan di atas
meja musyawarah. Umat lebih senang menganggap sedikit perbedaan pandangan
sebagai sebuah kesesatan. Umat lebih senang berdemonstrasi dan bertindak main
hakim sendiri daripada menasihati dengan arif bijaksana.

Mutlak, Islam memang mengajarkan untuk bertindak
tegas dan tajam laksana “pedang” dalam memerangi kemungkaran. Namun
permasalahan terpenting dalam hal ini adalah ketidakmampuan umat dalam
menggunakan “pedang”nya dengan arif. Kayu besar dipotong dengan pisau kecil,
sedangkan kayu kecil ditebas dengan pedang besar. Bagaimana mungkin hasilnya
bisa sempurna? Kecerobohan justru dapat menimbulkan luka yang fatal bagi tubuh
umat sendiri.

Terkadang, mengalah bukan berarti kalah. Dalam
menghadapi globalisasi seharusnya umat Islam dapat bersikap mawas diri dan
berhati-hati dalam menentukan langkah. Bertindaklah sewajarnya tanpa harus over acting. Bijaksanalah dalam
menyikapi perbedaan pandang. Kaji kembali Al-Quran dan Hadits serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Persiapkan SDM muslim
secara maksimal. Setelah siap, maka beraksilah. Jika merindukan sebuah
pemerintahan Indonesia yang Islami, maka belajarlah dengan giat agar kelak
dapat menjadi seorang pejabat muslim yang kapabel. Bila tidak ingin
didiskreditkan oleh media Barat, maka belajarlah dengan tekun agar kelak
menjadi jurnalis muslim yang profesional dan objektif. Sebab Allah menciptakan
akal, hati, dan panca indera agar dapat digunakan dan dieksplorasi oleh
manusia. Agar manusia dapat berkreatifitas gila-gilaan tanpa menimbulkan sifat
destruktif. Agar manusia dapat menjadi khalifah
dan pelindung yang memberikan rasa nyaman dan adil, tidak hanya untuk pribadi
dan golongannya, tetapi untuk semesta alam. Secara arf bijaksana. Tanpa pandang
bulu. Tanpa terusik oleh perbedaan.

Insya
Allah.