Di mata gw, band yang sedang dalam pembuktian
eksistensi ini adalah lebih dari sebuah band. Yup, Captain Lord (selanjutnya
akan ditulis CL) adalah sebuah keluarga. Kekompakkan antara player, manajemen, dan
produser tidak hanya diaplikasikan saat berkutat dalam urusan manajerial,
event, dan stage, tapi juga dalam tawa-canda serta urusan curhat-curhat harian.
Ah, what a happy family.
Atmosfir kerja yang sangat kondusif ini adalah sebuah senjata yang sangat
ampuh dalam upaya mewujudkan kemungkinan-kemungkinan yang pada awalnya tidak
mungkin agar menjadi mungkin. So, keep up
the good works, Guys!
Me-review
album pertama CL yang bertajuk namanya sendiri (self titled) adalah pekerjaan
yang menyenangkan buat gw. Pertama, karena CL sepenuhnya
berisikan orang-orang yang sangat ramah dan menyenangkan, kedua, karena seluruh personil CL adalah orang-orang yang sangat bisa
diandalkan. Mereka tidak hanya musician
minded yang melulu hanya mengerti tentang dunia musik tetapi juga menguasai
banyak bidang di luar dunia musik itu sendiri. Mulai dari tukang komputer, jurnalisme,
multimedia, politikus, bahkan sampe ahli kimia pun ada di sini! Ketiga, jelas, CL adalah keluarga di mana gw
juga turut berkecimpung di dalamnya sebagai gitaris, hehe.
Kembali ke topik.
Menurut penilaian gw, seluruh lagu dalam album
pertama CL adalah lagu yang aman, wajar, dan sangat industri sekali. Easy listening! Hal ini mungkin
menyesuaikan target pasar CL yang terdiri dari remaja dan kalangan sosial B-C. Sayangnya,
gaya lagu-lagu mereka tidak banyak berbeda dengan band-band musik industri
pendahulunya. Sangat terlihat dalam album ini bahwa CL belum berani melakukan
eksperimen apa pun. Semua lagu digarap secara lurus-lurus saja. Sekedar saran,
simpel dalam mengaransemen musik memang kerap kali menjadi pertanda akan
pendewasaan seorang musisi, namun untuk CL gw pikir belum waktunya untuk
seperti itu. Semoga di album berikutnya ada sedikit idealisme yang tertuang
tanpa harus mengorbankan sisi-sisi komersialisme.
Pop adalah garis merah yang ditawarkan CL.
Uniknya, ada banyak unsur “pop” yang ditawarkan dalam 9 album ini. Mulai dari Pop
Mellow, Pop Rock, Garage Pop, Pop and Roll, Brit Pop, sampai Rock Modern (nah
lho!). Gw pikir, ini lah daya tarik utama CL. Maka dari itu, gw berani
mengeluarkan statement bahwa album CL
pertama ini adalah sebuah kaleidoskop
perjalanan musik Pop di Indonesia. Memang, di sisi lain hal tersebut
menyiratkan bahwa CL belum memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan
band-band tanah air lain. Tapi, untuk memulai sebuah karir di blantika musik
Indonesia hal yang sudah ditempuh CL sejauh ini sangat tidak jelek. Lebih lagi,
karakter vokal Doni setidaknya telah memberikan sedikit kontribusi yang
menuangkan ciri pada keseluruhan karakter CL.
Berikut di bawah ini adalah ulasan satu per satu
lagu yang terkandung dalam album pertama CL.
1. Jatuh Cinta Lagi. Jelas, dalam lagu ini para player tidak
sempat memikirkan aransemen secara lebih mendalam. Intronya sangat familiar dan
terlalu banyak dipakai para pendahulunya, seperti oleh: /rif, Samsons, atau
Sheila on 7. Tapi okelah. Toh di sisi
lain, lagu ciptaan Doni ini sangat powerful. Karakter vokal Doni pun sangat
menonjol dalam setiap reff. Part interlude
adalah part yang terkeren. Sangat modern. Thanks buat Adi “Drive” atas
masukannya. Fill synthesizer di
ujung-ujung lagu merupakan usulan yang asyik dari Ace dan Dep. Bila pada
akhirnya lagu ini dijadikan sebagai hits single, maka itu adalah pilihan yang
pas.
2. Dan Aku. Lagu mellow indah yang dibangun dengan konsep
sedikit Brit Pop. Gw suka nada-nada tiap songnya. Matto sang penciptanya boleh
juga, nih. Tapi sayang, liriknya agak
sedikit dangkal. Yah, tapi apa boleh
buat. Masyarakat Indonesia memang tidak terlalu suka dengan bahasa yang ribet.
Maka, gw rekomendasikan lagu ini sebagai lagu yang paling aman sepanjang album
CL. Manis, tanpa kehilangan sentuhan rock para playernya. Apalagi ada part overtune. Wuiihhhhh, gw sampai merinding. Backing vokal pada ending lagu menegaskan kembali maksud
dari lirik dalam lagu ini. Ide yang bagus. String
section dan blocking piano-nya
menjadikan lagu ini juga cukup syahdu. Pilihan nada-nada yang simpel namun
mengena.
3. Baru Jadian. Intronya gw ambil dari lagu The Strokes yang
berjudul “12.51”. Tapi banyak orang yang tidak menyadarinya. Alhamdulillah
kalau begitu, hehe. Secara umum lagu
ini berkonsep Garage Rock atau mirip-mirip Rock and Roll 70-an. Sedikit
terinspirasi oleh lagu Dewa 19, “Flower in the Dessert”. Melodi interlude-nya juga
terinspirasi oleh gaya bermain Brian May dari Queen. Tapi untungnya, suara
“brass” sepanjang lagu sedikit mengingatkan banyak orang akan lagu-lagu “ska”.
Nah, jadinya lagu ini termasuk kategori apa, dong? Silakan anda interpretasikan sendiri. Yang pasti, gw suka
banget dengan lagu ini. Riang!
Sayang, sound gitarnya kurang maksimal. Ahhhh,
capek, deh.
4. Takut Mati. Direncanakan akan menjadi hits single kedua dari
CL. Lagu ini merupakan kombinasi antara “The Reason” ala Hoobastank dan “ATSL”
ala ST 12. Unik! Matto sang pencipta lagu turut urun suara pada tiap song.
Liriknya pun lucu, simpel, mudah diingat, dan tidak bertele-tele. Dari
keseluruhan lagu, lagu ini lah yang memiliki sound paling maksimal. Tapi ada
part yang sangat gw sesali. Yaitu, part slide
gitar pada pertengahan lagu yang bertabrakan dengan vokal. Seharusnya,
cukup salah satunya saja, antara vokal atau slide
gitar. Demikian juga dengan blocking kibor yang di-pitch. Duh, membuat pendengar menjadi semakin bingung memikirkan
nada mana yang sebenarnya menjadi tema.
Lagu ini, sama seperti “Dan Aku”, backing vokal pada ending menegaskan kembali maksud dari liriknya. Ssst, jangan
bilang-bilang, itu usulan dari Mas Ebi, lho.
5. Kamu. Lagu ini gw ibaratkan seperti Vina Panduwinata
bernyanyi diiringi band Punk. Dasar lagu ini sebenarnya adalah lagu swing, namun berkat brainstorming antara player-player CL, maka jadilah lagu tersebut
seperti yang dapat disimak dalam album. Modern ke-vintage-vintage-an. Halah! Tetap asyik untuk dibuat goyang
walaupun rada dipaksakan. Sedikit jomplang
antara part intro dengan part
saat vokal mulai masuk. Intro-nya
sangat hardrock sekali, namun saat vokal mulai masuk nuansa hardrock tersebut
lantas hilang begitu saja. Lalu sekali lagi, sayang seribu sayang, sound
gitarnya sungguh amit-amit! (gitarisnya siapa, sih? Hehehe.)
6. Demi Cinta. Lagu ciptaan gw, neh! Kalau kata Doni, syairnya berat dan gw setuju (hehe). Anyway, lagu ini tergubah tidak seperti yang gw harapkan. Gw
berharap lagu ini bisa menjadi lebih modern dengan campur tangan Gerdi dan
Matto yang biasa membawakan lagu-lagu Modern Rock. Tapi ternyata tetap seperti
pada konsep awal: jadul. Fill piano akan lebih maksimal apabila
diisi sepanjang lagu. Tapi sayang, Dep masih kurang berani untuk melakukannya. Lalu,
di seluruh part song dan reff Doni pun masih kurang soulful. Untung, pada part bridge-nya doi tampil prima. Membuat
lagu ini menjadi sedikit klimaks. Interlude-nya
gw suka. Mengingatkan gw akan lagu balada ala OST “Realita Cinta dan Rock and
Roll” yang dinyanyikan Ipang. Tapi ya itu tadi, jadi jadul banget! Sing a long pada ending lagu cukup menghanyutkan. Sangat memback up vokal Doni yang kurang penjiwaan. Buat jadi hits single
ketiga? Hmmmm, boleh lah.
7. Padamu. Satu-satunya lagu CL yang bertema ketuhanan dan
paling revolusioner menurut gw. Rock Modern tercampur sedikit Japanese Rock!
Dahsyat. Shynthesizer Dep dan pukulan
dram Gerdi memberikan banyak kontribusi pada lagu ini. Demikian juga usulan
nada pada part intro yang diusulkan
Matto. Keren! Doni pun perfect. Tapi
sayang, interlude dan intro-nya FALS! Gw sampai kepikiran terus berhari-hari. Pasti gara-gara adjusment gitar yang kurang sempurna. Ah, andai waktu bisa berputar, ingin
rasanya gw take ulang lagi. Yah, moga-moga album CL saat ini meledak
sehingga para gitarisnya mampu membeli gitar-gitar yang berkondisi lebih sehat.
Amin!
8. Di Ujung Jalan. Kata operator yang menggarap proses recording CL, lagu ini mirip lagu
Jikustik. Tapi sebenarnya, Nidji dan Goo Goo Dolls-lah yang lebih banyak
berpengaruh. Modern Pop yang sangat indah di bagian awal namun gagah di bagian
akhir. Menurut gw, inilah lagu CL yang proses aransemennya paling dipikirkan.
Prediksi gw, lagu ini juga bakal dijadiin hits single, tapi ternyata tidak.
Sedikit ada gitar fals pada interlude dan loose
tempo saat Doni bernyanyi setelah “break” pada tengah lagu. Tapi secara
keseluruhan, dalam memainkan secara live atau pun audio, gw sangat bisa
menjiwainya. Gw mau kasih applaus
buat Dep. Isi-isiannya keren. Katanya, dia terinspirasi oleh November Rain ala
GnR. Yah, whoever, lah, yang jelas
lagu ciptaan Matto ini telah tergubah menjadi sangat indah.
9. Kaulah. Lagu ini sebenarnya hanya merupakan etude latihan fingering gitar klasik
yang gw mainkan setiap hari. Tapi lantas Doni menginginkan etude tersebut dijadikan sebuah lagu, ya sudah. Silakan saja. Hasilnya pun sangat menggembirakan. Lagunya
bagus juga, walau pun liriknya agak gombal
mukiyo! Ada sedikit loose tempo
saat gw mengisi interlude, tapi harap
maklum, karena semua proses fill in pada
lagu ini adalah impromptu. Demikian
juga isian windchime dan voicing mirip flute pada reff akhir, semua digarap kurang halus. Termasuk take dengan gitar klasiknya. Ampun,
bermain klasik dengan metronom sulit sekali ternyata. But, over all, lagu ini cukup pantas untuk dijadikan penutup dari
sebuah album pertama CL. Good job!
Fiuh! Selesai sudah review album CL menurut
pandangan gw. Moga-moga tidak ada pihak yang Ge Er atau pun tersinggung, karena
apa-apa yang gw utarain semua hanya demi kemajuan CL semata.
Btw, CL tidak perlu meributkan kembali
permasalahan tentang ke”indie”annya. Bila ada pihak-pihak di luar sana menilai
materi CL terlampau biasa-biasa saja bagi sebuah band indie maka sudahlah. Toh CL
sudah berupaya sangat maksimal dengan segala keterbatasan yang menghimpit. Hal
lain yang perlu diingat adalah tentang tujuan hidup seorang penghibur atau entertainer yang tidak boleh mengesampingkan kesukaan audiens-nya.
Seorang entertainer hidup untuk
menghibur dan bertindak berdasar apa-apa yang masyarakat sukai dan sudah
seharusnya untuk tidak boleh egois. Apabila ada yang berkomentar aneh tentang
CL, maka biar saja, Show must go on.
Yang jelas, CL ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesenian yang
menghibur. Bukankah menjadi penghibur hati yang sedih merupakan tujuan hidup
yang mulia? Maka, bila memang dalam hati setiap produser, personil, dan
manajemen terbersit itikad untuk menjadi sosok orang yang berguna sebagai
pelipur hati masyarakat, sudah sepatutnya setiap anggota keluarga CL berjalan membusungkan
dada, berbangga akan eksistensinya. Kenapa? Karena kita adalah orang-orang yang
berjiwa mulia….
Bravo Captain Lord…
Break a Leg……………